“Purnama Empat Belas”
M. Badru Tamamudin
260110100081
Faculty of Pharmacy, Padjadjaran University (BIDIK MISI 2010)
Tak seperti malam-malam sebelumnya, malam itu aku masih saja terjaga dalam keheningan malam ditemani hembusan semilir angin yang seakan menyayat epidermis kulitku. Padahal siang tadi banyak sekali aktivitas yang aku lakukan dan seharusnya kini aku sudah asyik bercengkerama dengan bunga tidurku. Entah ada bisikan darimana yang membuatku keluar rumah sendirian, hanya kelam malam yang menjadi teman baikku dengan semua kebisuannya. Malam itu rupanya aku sedang beruntung, ku lihat langit malam begitu cerah bertaburan kerlip bintang ditambah sahutan jangkrik dan katak di sawah dekat rumahku menambah suasana tentram malam itu. Kini mataku berpaling pada suatu sudut yang membuat mataku terkagum-kagum, terlihat di ujung langit sana, secercah cahaya purnama yang tersipu malu dibalik awan, membuat diriku sedikit merasakan kehangatan malam ini. Saat itu pula aku tenggelam dalam angan-angan masa laluku.
Saat itu, di sekolahku tepatnya di Madrasah Aliyah Negeri Leuwiliang Kabupaten Bogor, sedang diadakan Training Motivasi untuk siswa yang akan menghadapi Ujian Nasional, aku termasuk salah satu peserta yang ikut meramaikan acara tersebut. Hal yang masih terngiang di kepalaku adalah pada sesi acara yang menyuguhkan pemutaran video tentang perjuangan seorang mahasiswa yang berani bermimpi untuk mendapatkan semua asanya, walaupun keadaan perekonomian keluarga dia sangatlah kurang, namun dia tetap berusaha sampai pada akhirnya bisa mencapai kesuksesan yang dia didambakan. Satu hal lagi yang sangat berkesan ketika sesi terakhir, saat itu sang motivator mengajak aku dan teman-temanku untuk bermuhasabah, mengevaluasi diri membayangkan kesalahan yang telah dilakukan dan berani bermimpi untuk mencapai cita-cita serta episode terakhir yang kita lalui diharapkan bisa berakhir dengan kesuksesan. Setelah acara berakhir, secara tidak sadar kami selaku peserta waktu itu, tidak bisa membendung air mata dan pada akhirnya bendungan itu pun jebol mengalirkan air mata tersedu-sedu laksana cucuran air terjun selaras dengan gravitasi. Tangisan itu bukan tangisan cengeng, melainkan tangisan introspeksi diri yang penuh khilaf dan dosa laksana buih ataupun pasir di pantai bahkan lebih dari sekedar itu, hanya rahmat-Nya-lah yang bisa mengembalikan kita pada fitrah manusia.
Semenjak mengikuti Training Motivasi, kehidupanku banyak mengalami perubahan. Kini aku sering mengurung diri, lebih sering diam dalam angan-angan. Dalam benakku kini hanya memikirkan bagaimana caranya untuk bisa kuliah tanpa membebankan orang tua. Kala itu, aku mendengar kabar bahwa sahabat seperjuanganku diterima di salah satu Perguruan Tinggi Negeri terkemuka di Indonesia, tepatnya di Bandung. Mendengar kabar itu, aku semakin giat mencari informasi beasiswa Perguruan Tunggi. Entah kenapa, aku ingin sekali kuliah di Bandung mengikuti jejak sahabatku. Mungkin karena ikatan bathin atau panggilan jiwa? ku tau ini semua adalah suratan takdir dari-Nya. Namun, pada faktanya aku ingin kuliah di Bandung karena Bandung merupakan Ibu Kota Provinsi Jawa Barat yang terkenal asri, memiliki pesona alam yang bisa menjernihkan pikiran dikala kusut. Aku berharap jika ku berada di sana bisa merasakan ketentraman hidup di setiap harinya. Tidak heran Bandung mendapat julukan ‘Kota kembang’.
Suara guntur tiba-tiba menyadarkan diriku dari lamunan, sontak aku kaget karena suara letupannya begitu dahsyat. Ini pertanda akan turun hujan yang sangat lebat. Meskipun bulan ini adalah musim penghujan, dikotaku tak pernah mengenal masa paceklik. Maklum curah hujan dikampung halamanku sangat tinggi, jadi meskipun musim kemarau, ada saja hujan yang turun meskipun hanya rintik-rintik. Pernah aku melihat berita di Televisi, kala itu diberbagai daerah sedang mengalami krisis air bersih karena kemarau yang berkepanjangan, namun di kampong halamanku Alhamdulillah masih lebih dari cukup. Inilah salah satu nikmat yang diberikan oleh Allah SWT kepadaku di daerah asalku, yaitu Kabupaten Bogor yang mempunyai julukan ‘Kota Hujan’. Aku patut mensyukuri nikmat yang diberikan oleh-Nya, karena dengan begitu, Insya Allah nikmat-Nya akan ditambah melimpah ruah. Namun, jika aku mengingkari, siap-siaplah mendapat adzab yang pedih. Naudzubillah.
Suara tangisan wanita setengah baya itu semakin menguasai keheningan malam yang sunyi senyap. Terdengar suara itu semakin menjadi-menjadi di samping kamar tidurku, irama suaranya pun tak karuan mengikuti alur kesedihan. Tak ku sangka semenjak ku ceritakan keinginanku untuk kuliah, apalagi di luar kota, Ibuku sering terlihat begitu sedih. Bukan sedih karena keinginanku yang besar, namun beliau memikirkan bagaimana cara membiayai kuliahku. Suara tangisan yang begitu sayup, menyebabkan diriku terjaga dalam keheningan malam yang terasa begitu dingin. Langkah demi langkah ku jaga agar tidak menimbulkan suara yang memecah sunyi, dengan langkah yang diperlambat terlihat begitu pelan gontai, ku lirik keadaan di kamar sebelahku. Terlihat sesosok wanita yang sedang mengenakan mukena putih dengan berenda motif bunga merah muda menghiasi kesenduan beliau. Matanya yang sayup menatap sajadah panjang yang terbentang menyelusuri kidung do’a dalam bermuhasabah diri. Tanpa disadari mataku menitihkan air mata mendengar sayupan do’a yang dipanjatkan beliau.
Kejadian semalam, menambah motivasi belajarku agar mendapat nilai terbaik saat Ujian Nasional dan bisa melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi Negeri dengan mendapatkan beasiswa sampai lulus. Aku singkirkan perspektif orang lain yang menganggapku mengada-ngada hanya bisa bermimpi. Aku hanya bisa bersikap tak acuh terhadap opini yang belum tentu benar adanya, karena hanya aku dan Allah-lah yang tahu duduk permasalahn hidupku. Meskipun ada yang membujukku, namun aku tetap bergeming dengan asa hidupku. Aku hanya yakin dengan tujuan yang meskipun tak kasat mata, aku pasti bisa meraihnya.
Meskipun aku disibukkan dengan bimbel sebagai persiapan menghadapi Ujian Nasional, aku sering menyisipkan waktu mengunjungi Warung Internet untuk mencari beasiswa Perguruan Tinggi. Setelah bergelut dengan ‘Mbah Google’ di dunia maya, akhirnya aku menemukan program beasiswa dari KEMENDIKNAS yang diberi nama BIDIK MISI. Setelah ku jelajahi lebih jauh, ternyata tahun 2010 merupakan tahun perdana diadakan beasiswa ini. Setelah menemukan informasi yang cocok, ku coba mencari daftar Perguruan Tinggi Negeri yang berdomisili di Bandung yang memiliki banyak pilihan.
Setelah ku telusuri, ku temukan situs resmi Universitas Padjadjaran (UNPAD), ternyata universitas ini menjadi salah satu Perguruan Tinggi penyelenggara BIDIK MISI dengan quota 500 orang. Berbeda dengan universitas lainnya, UNPAD memberikan 5 pilihan lebih banyak dibandingkan dengan universitas lainnya yang rata-rata hanya memberikan 2 pilihan saja. Informasi ini memberikan titik terang dalam hidupku dan memiliki probabilitas yang tinggi untuk diterima. Setelah mendapatkan informasi tersebut, bersegera aku mengirimkan segala syarat melalui Kantor Pos tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu dari Ibuku. Sengaja memang aku lakukan, agar Ibu tidak ikut-ikutan repot dan rencananya jika aku lulus akan menjadi kado kejutan teristimewa untuk beliau. Semoga saja rencanaku dapat tercapai. Aaamiin.
Setelah menunggu seminggu lamanya, hari yang aku nanti-nantikan tiba juga, masa pengumuman yang tak kunjung datang kini telah berada pada batas akhir penantian yang kian terasa begitu panjang dalam benakku. Bahkan, sehari laksana sebulan, sebulan laksana setahun, begitulah seterusnya. Ku masukkan entri kode pada pengumuman di salah satu situs, ku lihat tampilan yang menyatakan bahwa aku ‘lulus’ alias diterima menjadi mahasiswa Farmasi Universitas Padjadjaran. Terucap dalam kata tersirat dalam makna, rasa bahagia yang begitu indah kini menstimulasi seluruh organ tubuhku untuk menerima energy positif. Inilah salah satu episode kehidupanku yang terasa indah dan begitu bermakna. Bagaimana tidak, seorang yang tidak punya apa-apa kecuali mimpi, bisa menyicipi kuliah di Universitas terkemuka di Indonesia.
Kini malam tak selamanya suram, masih ada cahaya temaram yang bisa menjadi sumber kehidupan. Masih ada purnama dikegelapan malam, masih ada jalan disetiap keinginan. Harapanku semoga aku bisa menjadi purnama pada malam keempat belas yang terlihat begitu indah menampakkan cahaya kehidupan di tengah kesuraman. Salah satu angan terbesarku yang telah ku abadikan dalam goresan secarik kertas diariku adalah semoga aku bisa menjadi Farmasis yang handal yang bisa melayani hajat hidup khalayak. Alangkah indahnya setelah aku lulus S1 aku bisa melanjutkan studi ke Jerman, karena itu adalah mimpi terbesarku. Tak mudah memang menjalani semua ini, namun kesempatan masih ada. Tugasku hanyalah berikhtiar agar semua asaku tercapai, tak lupa setiap perbuatan harus diiringi dengan do’a, karena sebuah do’a bisa mengubah hidupku.
Malam tak selamanya kelam, siang tak selamanya benderang…
Masih ada secercah harapan bagi mereka yang berkeinginan…
Ikhtiar, ikhtiar, ikhtiar, iringi dengan do’a…
Jalan masih panjang, tidak cukup dengan hanya satu langkah…
Segenggam gunungkanlah, setetes lautkanlah…
Alam terkembang jadikan guru…
“ Coretan ini terinspirasi oleh goresan tinta kehidupanku, dibumbui dengan beraromakan kenangan masa laluku. Terima kasih Yaa Allah… atas semua karunia yang telah Engkau berikan kepada hambamu ini yang tak pernah luput dari dosa. Terima kasih Umi, atas semua kasih sayang yang telah engkau berikan tanpa pamrih, kasihmu sepanjang masa tak lekang oleh waktu. Terima kasih Abi, dengan semua kesahajaanmu memberikan aku pelajaran yang begitu berharga dalam kehidupanku. Terima kasih kepada semua orang yang telah memberikan warna dalam kehidupanku, tanpa kalian hidupku akan terasa begitu hampa.”
(29/02/2012) ™___Wal afwa mingkum, Wallahu alam bishshoab___™ (00:08)