Sebut saja Muhammad Badru Tamamuddin, pria kelahiran
Bogor 20 Tahun yang lalu tepatnya pada Hari Sabtu Tanggal 14 Maret 1992 M (09
Romadhon 1412 H) dengan berat badan 2700 gram dan panjang badan 47 cm. Biasanya
pria ini dikenal dengan sebutan ‘Dadu’ nama panggilan keluarga dan orang-orang
terdekat. Menurut etimologi, nama pria ini memiliki arti bulan purnama penyempurna/pelengkap agama, arti yang begitu berat
terasa bagi pemiliknya. Di dalam sebuah nama terdapat sebuah do’a,
mudah-mudahkan Dadu menjadi insane yang selalu membela agama dalam setiap
kehadirannya. Seperti bulan purnama yang selalu muncul saat kelamnya malam,
Dadu kecil pun terlahirkan ke dunia tepat pada pukul 00:25 WIB, melewati tengah
malam dan hampir mendekati pagi. Harapan lain, mudah-mudahan Dadu menjadi
penerang saat orang lain merasa bersedih (Aaamiin).
Awalnya, Dadu diberi nama ‘Hasan Basri’, namun entah
kenapa nama tersebut diganti. Ada alasan karena Dadu kecil sering
sakit-sakitan, bahkan saat kecil Dadu sudah bosan dengan obat dan pernah
mengalami operasi padahal kondisi badannya tidak kuat menahan sakitnya operasi.
Mungkin sudah menjadi suratan takdirnya, di dalam kondisi yang serba
kekurangan, Allah memberikan kesempatan dan kenikmatan untuk melanjutkan hidup.
Padahal mendengar narasumber yang menjadi saksi kelahiran Dadu, kondisi Dadu
kecil sangatlah memprihatinkan. Terima kasih Yaa Allah atas segala karunia-Mu.
Seperti layaknya anak kecil kebanyakan, Dadu kecil senang
sekali main. Dadu kecil bebas melakukan apapun tanpa mengkhawatirkan resiko
yang akan didapatkan. Pernah suatu ketika, Dadu kecil akan terjatuh dari sebuah
pohon kecapi yang lumayan tinggi yang dibawahnya terdapat sebuah sungai yang
mengalir deras. Namun, karena sedang beruntung Dadu pun tidak terjatuh. Di lain
sisi, ketidakberuntungan pun pernah menghampiri Dadu kecil, diantaranya Dadu
pernah digigit seekor monyet yang sedang kelaparan, maksud hati untuk memberi
makan, namun malangnya sebuah gigitan yang didapatkan. Memang kurang beruntung.
Selain itu, pernah suatu hari Ummi mencari Dadu karena hari sudah mau maghrib
dan sebentar lagi larut malam. Ternyata, setelah beberapa jam mencari, Dadu kecil
sedang asyik berenang di sebuah sungai yang lumayan besar dan lebar, padahal
waktu itu arus airnya lumayan deras, namun saking nakalnya Dadu tidak
mengkhawatirkan hal itu.
Teringat suatu hal yang memberikan gelak tawa. Saat itu
Dadu kecil diajak Ummi untuk kondangan ke Desa tetangga. Sebagai seorang bocah
kecil yang diajak jalan-jalan, pasti terlihat senang mendengar ajakan tersebut.
Lagipula, disebuah kondangan pasti terdapat banyak makanan yang bisa dimakan
sepuasnya. Tapi, yang terpenting adalah banyak tukang mainan. Dadu pun
siap-siap dengan jurus jitunya (nangis) jika keinginannya tidak dipenuhi. Dasar
manja sekali anak ini. Namun, semua rencana Dadu musnah sudah, ternyata setelah
sampai ditempat tujuan tidak ada sama sekali tukang mainan yang ada hanyalah
dokter-dokter berjas putih yang siap mengkhitan anak kecil. ‘Monster ganteng’
yang selalu ditakuti Dadu ini kini menghampirinya. Sial, ternyata Ummi
berpura-pura mengajak Dadu kecil untuk pergi kondangan agar mau ikut ke tempat
khitanan. Ternyata maksud Ummi yang sebenarnya adalah untuk mengkhitan anaknya,
Dadu. Dadu kecil pun pasrah dan hanya menangis dan menangis meminta agar tidak
di sunat. Namun, kali ini permintaannya tidak bisa terpenuhi dan akhirnya Dadu
pun disunat juga. Setelah disunat, Dadu pun sering menangis, namun diluar
dugaan ternyata banyak Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang datang memberikan ‘salam
tempel’. Padahal hari ini bukan Idul Fitri ataupun Idul Adha. Tak apalah
disunat juga yang penting dapat salam tempel yang banyak (perkataan Dadu dalam
hari). Akhirnya Dadu pun tidak menyesal sudah disunat, karena bisa mendapatkan
salam tempel.

