Powered By Blogger

Wilujeng sumping...

" Wilujeung sumping di Blog Abdi, Jalmi nu Insya Allah Calon Pharmacist ti UNPAD tea anu ngagaduhan ngimpi anu ageung "

Senin, 05 Desember 2011

Awal dan Akhir Kisah Cintaku

Ketika seseorang bertanya cinta padaku, apa yang akan aku jelaskan???

Cinta adalah anugerah dari Illahi Robbi, yang telah menjadi kebutuhan bagi setiap ummat, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri.

Namun, bagi sebagian orang, cinta adalah malapetaka, terlalu sering tersakiti karena cinta, hingga dia trauma dan tak mau mengenal lagi apa saja yang berhubungan dengan cinta.

Sebuah nama sebuah cerita, begitu banyak cerita hanya dalam sebuah nama, mungkin jika semua nama disatukan, terlalu banyak cerita yang tak bisa dicerna. Itulah bukti kebesaran Allah, yang membuat sebuah perbedaan demi tercapainya sikap saling kekeluargaan “Bhinneka Tunggal Ika”.

Seperti halnya orang lain, akupun memiliki seabreg kisah yang mungkin sulit ku hilangkan, meskipun ku coba dengan sekuat tenaga untuk meng-enyah-kannya. Yaah… inilah aku laksana Purnama dalam kekelaman malam, penuh dengan kisah yang kelam menyesakkan hati dan pikiran.

Sebenarnya dari awal memasuki sekolahku, aku telah berkomitmen untuk tidak mengenal apa yang namanya cinta sama sekali dalam hidupku. Namun, apa daya setelah aku dipertemukan dengan seseorang yang aku kenal sejak masa-masa awal sekolah menengah atasku, membuat diriku sedikit berbeda dari kehidupanku semula. Mungkin lebih bisa disebut perubahan yang drastis dibandingkan dengan perubahan yang biasa-biasa saja, karena sebelumnya aku tak pernah merasakan jatuh cinta yang sebenarnya. Sebut saja dia “RG”, wanita yang sangat aku cintai, dia adalah cinta pertamaku dan tak mungkin aku lupakan semua kenangan bersama dia.

“RG” adalah wanita cerdas, pintar, baik, perhatian, siapa juga pria yang akan menolak bersanding dengannya, hanya pria bodoh saja bila tak ingin berteman dengannya. Dia adalah sainganku dikelas, namun saat diluar kelas dia adalah soulmate terbaik bagiku. Awalnya, karena masih malu-malu, kami hanya bercakap-cakap layaknya seorang teman biasa. Namun, ternyata lama-kelamaan dalam diri kami masing-masing terdapat perasaan yang tak bisa terpendam lagi. Semakin lama, kian dekat saja hubungan kami berdua.

Saat itu aku masih polos, tidak ada keberanian dalam diriku untuk mengungkapkan perasaan jatuh cintaku padanya. Hanya bahasa tubuhku saja yang mengisyaratkan bahwa aku menyukainya. Bagiku, memang sangat berat menyatakan perasaan pada orang yang aku cintai.

Di masa-masa sekolah dulu, kami sering bercanda, bergurau bersama sampai akhirnya adik-adik kelasku, teman-teman kami, bahkan guru-guru kami pun mengetahui kedekatan kami. Memang tak pernah ada yang menyangka diriku bisa dekat dengan orang lain, terutama dengan yang namanya wanita. Masa-masa sekolah memang memiliki keistimewaan tersendiri dalam hidupku, itulah masa yang terindah yang pernah aku lalui semasa hidupku.

Cara kami memang unik, agar tidak ketahuan oleh lain, kami sering SMS-an di kelas ketika belajar, dengan cara menyembunyikan Handphone di dalam tas, ketika hendak mengirim pesan, aku berpura-pura untuk mengambil buku atau pulpen, padahal hanya untuk mengirim SMS saja, terlihat aneh memang, namun itulah kenangan yang tak pernah aku lupakan.

Pernah suatu ketika, kami dipersatukan dalam perlombaan mewakili sekolah kami untuk perlombaan siswa berprestasi di daerah Bandung, Jawa Barat, tepatnya di Ujung Berung (MAN 2 Bandung). Kami berangkat dari rumah masing-masing sendiri-sendiri. Yaa, biar tidak ada saling yang menunggu kami janjian hanya di Terminal Beranang Siang (Terminal Bus di Bogor). Aku sendiri menumpangi Bus “Rudi”, pertimbanganku agar tidak harus turun beberapa kali. Maklum, rumahku termasuk daerah pedesaan (Kp. Sinar Harapan RT 06/04 Ds. Galuga Kec. Cibungbulang Kab. Bogor 16630) yang lumayan jauh dari dari pusat kota, harus ditempuh dengan menggunakan Angkutan Perkotaan beberapa kali. Namun, ada alternatif lain agar aku tidak turun beberapa kali, yaitu dengan menumpangi Bus. Namun, resikonya aku harus berdiri sepanjang perjalanan. Tak apalah, yang penting lebih hemat dan tidak harus beberapa kali naik-turun Angkot.

Lama-kelamaan, tibalah aku di “Tugu Kujang”, berarti aku hampir sampai di terminal Bus. Aku coba SMS “RG” untuk mengetahui keberadaannya. Namun, dia tidak membalas pesanku. Mungkin dia terlalu sibuk untuk membalas SMS-ku. Akhirnya, ku putuskan untuk menelpon dia. Kriiing…kriiing… akhirnya dia mengangkat juga.

Aku: “Assalamu’alaikum…”

RG: “Wa’alaikum salam…”

Aku: “Kamu, sekarang sudah dimana? aku lagi di Tugu Kujang nih.”

RG: “Hah, aku juga lagi di Tugu Kujang.”

Aku: “Ywdah, kita ketemuan di Terminal aja yah?”

RG: “Ywdah…”

Setelah mengetahui keberadaan dia, aku berhenti di Jembatan Penyeberangan. Namun, tiada disangka sebelumnya, ketika hendak turun dari Bus, terlihat dari belakang wanita berkerudung yang hendak turun juga. Aku rasa, aku kenal dekat dengan karakteristik wanita ini dilihat dari gayanya. Setelah aku dekati dan aku sapa, tidak disangka-sangka sebelumnya, ternyata dia adalah “RG”. Hah, ternyata selama ini, kami se-Bus bareng, namun kami tidak menyadarinya. Sontak kami, semua kaget dan tertawa bersamaan. Kami langsung berjalan menuju Terminal untuk melanjutkan perjalanan kami ke Bandung bersama guru kami (Pak Diki dan keluarganya) yang sudah janjian sebelumnya.

Diperjalanan kami tidak banyak bicara, mungkin ada perasaan malu untuk bicara. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, dan akhirnya kami sampai juga di Bandung. Di Bandung, kami menumpang menginap di rumah saudaranya Pa Diki di daerah Ujung Berung. Disana kami, mempersiapkan diri untuk menghadiri perlombaan sebagai siswa berprestasi dan berharap mendapatkan hasil yang memuaskan. Mulai saat itu, kami saling belajar bersama, berbagi ilmu dan semakin dekat saja hubungan kami walaupun masih saja terkesan malu-malu.

Singkat cerita, kami telah melalui perlombaan dan hasilnya Alhamdulillah mendapatkan hasil yang terbaik. Ketika hendak pulang, ternyata Keluarga Pa Diki masih mau menginap di rumah saudaranya. Yaa… mau tidak mau kami hanya pulang berdua saja. Di tengah perjalanan pulang, aku bertemu temanku yang hendak ke Jatinangor dan mengajak aku dan “RG” untuk pulang bareng. Namun, setelah aku bertanya ke “RG”, ternyata dia tidak mau, alasannya karena hanya dia, wanita sendirian di antara teman-temanku. Yaa… memang teman-temanku pria semua, mungkin “RG” tak merasa nyaman. Akhirnya, dengan berat hati kami hanya pulang berdua saja. Aku merasa dilema, ga enak sama teman dan sama “RG”. Namun, karena aku mengalah untuk wanita, aku hanya pulang berdua. Sebenarnya ada perasaan senang juga, karena dengan begitu aku mempunyai banyak kesempatan untuk lebih dekat dengan “RG”. Namun, entah kenapa, selama perjalan, aku tak berkutik apa-apa. Mungkin ini adalah kelemahanku yang tak punya kemampuan apa-apa.

Waktu memang terasa sebentar ketika kita merasakan kesenangan. Setelah aku merasa nyaman dengan dia, tibalah saat-saat akhir sekolah yaitu masa-masa mendekati Ujian Nasional yang menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian orang. Pada masa itu, lagi-lagi ada tawaran yang membuat kami bersaing kembali, yaitu tawaran untuk mengikuti seleksi Penerimaan Beasiswa “PELOPOR” kuliah di Bandung. Mungkin ini sudah jadi suratan takdir, dia diterima (lolos) di Universitas terkemuka di Bandung, bahkan di Indonesia, yaitu di Institut Teknologi Bandung (ITB) fakultas STEI. Namun, inilah kehendak Allah SWT, aku memang tak mau jauh dari dia, dan pada akhirnya aku mencari beasiswa lain yang berdomisili di daerah sekitar Bandung. Alhamdulillah, aku juga di terima kuliah di Universitas Padjadjaran Fakultas Farmasi melalui Beasiswa “BIDIK MISI” dari Kementerian Pendidikan Indonesia.

Masa-masa yang kelam untuk diriku adalah ketika harus berpisah dengan dia untuk sementara waktu. Dia harus mengikuti “Learning Camp” selama kurang lebih 2 bulan lamanya dan dia hanya diperbolehkan menggunakan Handphone pada akhir pekan saja. Sontak, aku merasa sedih, dengan begitu, berarti aku tidak bisa menghubunginya untuk sementara waktu. Hanya Sabtu-Minggu saja aku bisa berkomunikasi dengan dia, itupun terbatas. Mulai saat itu, aku merasa rindu yang sangat-sangat mendalam padanya, hidupku saat itu terasa sangat menyedihkan dan menderita. Tak terlihat semangatku, berbeda jauh ketika kami masih berdekatan. Memang jarak menjauhkan kami, namun rasanya hati kami terasa sangatlah dekat.

Setelah beberapa masa melalui hidup yang penuh keterpurukan, tibalah saat-saat pertama masuk kuliah, dia di ITB dan aku di UNPAD. Aku berharap kuliah di UNPAD Dipati Ukur, namun ternyata aku di Jatinangor. Jarak aku dengan dia kini lumayan jauh. Butuh waktu sekitar satu jam untuk berjumpa dengannya yang biasanya menggunakan DAMRI (Bus yang biasa aku tumpangi).

Awalnya, itu bukanlah rintangan yang berarti bagi kami untuk berjumpa. Namun, setelah beberapa lama melalui masa kuliah, kami memiliki kesibukkan masing-masing yang menyita banyak waktu dan pikiran. Ternyata dalam satu semester, pertemuan kami bisa dihitung dengan jari.

Seiring dengan adaptasiku dengan lingkungan baru, aku mulai sering gelisah, dan hidupku mulai berubah drastis. Masa sekolah dulu, aku hanya orang pendiam, sama sekali tidak aktif dalam berorganisasi. Namun, setelah menduduki bangku kuliah, aku menjadi orang yang super sibuk dengan seabreg kegiatan organisasinya. Sehingga, membuat diriku sendiri memiliki resistensi yang kurang. Aku sering sakit-sakitan. Bahkan, dokter pun sudah mengenal aku yang sering bulak-balik Klinik Padjadjaran. Saat itu, setiap pagi entah kenapa aku sering muntah darah, saat kuliah pun konsentrasiku berkurang, penglihatanku sering buram saat pagi dan malam. Mungkin karena makan yang kurang teratur, tak seimbang dengan kesibukanku saat itu. Sampai akhirnya dokter pun memvonis aku dengan satu penyakit yang selalu menjadi teman baikku yang selalu bersamaku kemana pun aku berada.

Saat ulang tahunku yang ke-19, mungkin itu menjadi pertemuan terakhirku dengan “RG”. Karena aku akan memutuskan untuk meninggalkan dia. Semua ini bukan karena aku tidak menyukainya. Namun, karena kondisiku yang lemah tak bisa menjaganya. Setelah hari ulang tahuku itu, dan mungkin pertemuan yang indah sekaligus menyakitkan, aku bersiap dengan kata-kata ‘tuk memutuskannya.

Setelah beberapa hari tak berjumpa dengannya semenjak aku memutuskannya, aku merasa syok, ketika mengetahui ternyata dia tidak sendiri lagi. Sudah ada pendamping barunya yang ternyata teman sahabatku ketika masih di SMP. Aku mengetahui ini dari temanku. Setelah aku bertanya langsung ke dia, ternyata memang benar, mungkin karena dia tidak bisa menahan rayuan.

Aku yang dulunya pendiam, ada juga yang mengatakan alim, kini menjadi orang pemberontak karena hanya seorang wanita. Hidupku kini tak karuan, tak ada semangat kuliah, tak ada semangat untuk hidup. Sempat aku mencoba 'tuk mempermainkan wanita (playboy) sebagai pelampiasan saja, namun seorang sahabat mengingatkanku, tidak ada gunanya meladeni keburukan dengan sikap yang salah.

Namun, kenapa harus dia yang dekat denganmu?

Kenapa setelah aku terlanjur mencintai seseorang, keadaan selalu saja tidak mendukung?

Aku mencoba bersikap tegar, dengan berpura-pura mengucapkan selamat pada dia, seolah-olah aku merestuinya. Namun, siapa kira itu hanya pura-pura, aku tidak rela kamu bersama yang lain. Ingat, aku akan selalu mengganggumu, sampai akhir hayatku. Camkan itu!

Liburan semester telah tiba. Biasanya aku mudik ke Bogor sering se-Bus dengannya (janjian). Namun, kini ku coba pulang sendiri. Pernah dalam satu momentum, walaupun aku pergi sendiri tanpa janjian dengannya, aku se-Bus lagi dengannya, melihat wajahnya aku pura-pura tidak tahu. Sebenarnya aku muak melihatmu. Kini aku terlanjur sakit hati dan takkan pernah memaafkanmu. Kamu kini hanya wanita keji yang tak ada gunanya, berbahagialah jika kamu bisa. Namun, akan selalu ku do'akan kamu mati.

Teruntuk wanita yang pernah singgah dihatiku, namun kini aku muak padamu…



SPC_MBT
(“,)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

A prayer that can change your life!!!
Selamat datang di blog Fullmoon_14 (",)



SPC_MBT JQ
Mangga Atuh Pasihan Komentar Ka Ieu Postingan, Di Antos Nya'... :D